Nak, inilah perjalanan bunda dulu

Bismillahirrahmanirrahiim

Segala puji bagi Allah, penguasa jagad raya, pemilik jiwa-jiwa yang menapaki muka bumi. Pemberi rezeki atas setiap makhluk yang bernyawa. Tak lupa, mari kita ucapkan syukur kepada Nya atas segala nikmat yang diberikan untuk kita.

Sebagai seorang muslimah, kita dituntut untuk selalu menjadi pribadi yang mampu kuat atas segala medan di muka bumi. Selalu menjadi penyejuk di kala panas terik menyengat hati. Menjadi penghangat di kala dingin menusuk-nusuk seluruh tubuh ini. Sungguh, muslimah itu amat tinggi kedudukannya. Amat mulia perannya, bahkan tak tertandingi oleh peran ayah. Namanya disebutkan tiga kali berturut-turut untuk pengabdian utama seorang anak, kemudian barulah nama ayah berikutnya. Maka, apakah kamu tak bangga menyandang sebutan itu?.

Menikah muda adalah impian saya saat menuntut ilmu di bangku kuliah. Ya, saat itu usia saya kurang lebih baru memasuki sembilan belas tahun. Cukup muda memang. Namun,  berbekal ilmu dari setiap kajian yang diikuti, niatan tuk menikah muda muncul dengan sendirinya. Mungkin saat itu Allah mulai membukakan hati dan fikiran saya agar lebih dekat dengan Nya dan menjauhkan diri dari zina. Namun, hingga usia dua puluh empat tahun, Allah tak kunjung pertemukan saya dengan seseorang yang akan menjadi suami saya. Tapi saya tak berkecil hati, terdidik dari keluarga besar yang menjunjung tinggi “anti cengeng” menjadikan saya pribadi yang mudah melupakan pergolakan hati dan perasaan, terutama soal menikah.

Lulus dari pendidikan diploma, saya gagal untuk melanjutkan ke program alih jenjang. Saat itu kondisi ekonomi keluarga saya tidak memungkinkan untuk saya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lagi-lagi sifat “anti cengeng” saya muncul dan Allah pun beri saya rezeki berupa pekerjaan, bahkan saat itu saya belum belum resmi menjadi sarjana diploma karena belum mengikuti seremonial wisuda. Sungguh, nikmat Allah cukup banyak tercurah limpah pada saya. Allah tahu cara menenangkan hati saya.

Cerita di atas merupakan bagian dari kisah-kisah perjalanan hidup saya. Masih banyak cerita lainnya yang akan saya bagikan ke pada para pembaca. Adapun isi buku ini adalah bentuk syukur saya pada Allah Subhanahu wa ta’ala, cinta saya pada baginda Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabat, keluarga besar saya yaitu keluarga besar MD Sitorus dan keluarga kecil saya, anak dan suami saya tercinta dan tak lupa pula sahabat-sahabat saya. Goresan tangan ini ada karena peran serta dari mereka. Tanpa mereka perjalanan hidup saya bukanlah hal yang berarti untuk dibaca dan diceritakan kembali.

Buat anak ku tercinta, bunda adalah bunda yang biasa saja. Terlahir dari keluarga yang sederhana dan hidup penuh dengan tetesan air mata dan keringat yang mengucur dari setiap celah-celah tubuh yang tercipta. Allah menjadikan perjalanan hidup bunda penuh dengan kehangatan dan kedinginan. Penuh dengan kebahagiaan dan kesedihan. Allah sangat cinta pada bunda. Hingga bunda pun sangat mencintai Allah, nak. Semoga kisah-kisah perjalanan hidup bunda dapat menjadi pedoman hidup mu, dan menjadikan mu sebagai anak yang selalu bersyukur.

 

Purwokerto, 28 Oktober 2017

Sri Maulidini

Iklan

2 respons untuk ‘Nak, inilah perjalanan bunda dulu

Add yours

  1. Hei, manusia ter-‘anti-cengeng’ yang pernah kukenal di dunia ini! Dipertemukan dengan banyak medan hidup dan banyaknya manusia sebagai prajurit yang berusaha berjuang, aku senang. Aku masih sendiri, tapi kalian jadi opsi kesekianku untuk bisa kupakai sebagai penunda rasa menyerah. Tuhan, Ia selalu berkahi usia kita, berkahi hidup yang pemurah. Jika aku jadi anak itu, aku pasti bahagia telah lahir darimu. Terus buat aku tertawa, dan akan ada banyak hal lagi yang akan jadi pelindungku dari rasa lemah nantinya.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hei, manusia ter-‘anti-cengeng’ yang pernah kukenal di dunia ini! Dipertemukan dengan banyak medan hidup dan banyaknya manusia sebagai prajurit yang berusaha berjuang, aku senang. Aku masih sendiri, tapi kalian jadi opsi kesekianku untuk bisa kupakai sebagai penunda rasa menyerah. Tuhan, Ia selalu berkahi usia kita, berkahi hidup yang pemurah. Jika aku jadi anak itu, aku pasti bahagia telah lahir darimu. Terus buat aku tertawa, dan akan ada banyak hal lagi yang akan jadi pelindungku dari rasa lemah nantinya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: