Aku Takut Kehabisan Pangan

Selamat datang di era baru. Era milenial katanya. Teknologi semakin canggih dan akses ke segala lini semakin mudah untuk didapatkan. Era yang kian menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

Mungkin itu yang bisa saya jadikan sebagai prolog di tulisan terbaru ini.

Menurut saya, era milenial menjadi polemik saat ini. Paham akan era yang kian melesat maju bukan berarti menajdikan kita berkembang. Efek dari era milenial ini terlihat dari anak muda yang semakin hari semakin hedon saja. Hedonisme pemuda akibat tidak efektifnya mengikuti era yang semakin membuat jengah.

Entahlah..

Lupa kodrati, mungkin itu yang saya istilahkan untuk pemuda di era ini. Sifat iba, sifat peka terhadap lingkungan sangat kurang. Entah apa yang membuat pemuda milenial ini berubah sikap menjadi acuh tak acuh.

Saya khawatir, pemuda yang tak melek kehidupan sekelilingnya ini masih terus hedon dan betah dengan sikap ini, apa yang terjadi pada bumi ini.

Pemuda adalah agen perubahan!!

Pemuda adalah stok kekuatan. Kekuatan dari para tetua yang berganti atau estafet kepada pemuda

pemuda adalah pengawas kebijakan

Istilah di atas adalah istilah “keren” buat pemuda. Sampai saaat ini masih disuarakan untuk menyemangati para pemuda, bahkan di era milenial ini.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda generasi saat ini?. Sudah saatnya kita menggantikan generasi tua. Saya ingat beberapa redaksi dalam sebuah buku “Lumbung Padi”, yang isinya seperti ini “Generasi tua masih terbiasa makan jagung, umbi-umbian, atau kacang hutan selama musim kekeringan. Tetapi generasi muda selalu makan nasi”.

Batin langsung meledak!!. Sindiran luar biasa ini bisa saja membuat air mata bercucuran akibat ego pemuda. Andai pemuda saat ini tahu, bahwa pangan tak hanya nasi. Seketika imaji berkeliaran tentang nasib masa depan.

Saya bayangkan jika pemuda tak ada seorang pun yang menjadi petani dan peternak. Pemuda/i memencar enggan tak mengabdi di tanah pertiwi. Para generasi tua sudah mulai tak sanggup untuk sekadar melangkah menuju pintu keluar. Mau diberi makan apa perut-perut berisik ini. Lahirnya generasi-generasi busung lapar lagi akibat gengsi menjadi seorang pengabdi tani.

Polemik kini sangat terlihat di sekeliling kita. Saya berharap, mimpi  saya menjadi nyata. Bermimpi membangun peradaban yang lebih baik. Kaya akan sember daya alam, bukan untuk dihamburkan ke negeri seberang. Namun, pencukupan kebutuhan secara merata untuk seleuruh rakyat Indonesia.

Saya berharap, generasi saya adalah generasi caping berdasi. Generasi penghapus istilah “ayam mati di lumbung padi”, generasi penyuluh pertanian dan peternakan untuk dapat mengeduksi petani untuk bersinergi.

Jangan pernah tutup mata, mulut dan telinga atau bungkam dengan apa yang terjadi. Mulailah membuka hati. Amati dan peduli. Jangan mudah terhasut oleh pihak anarki. Petani berdasi. Masyarakat madani, Indonesia mandiri.

Agar bangga menjadi petani!!

Salam hangat,

Sri Maulidini (Calon petani/peternak)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: